Makalah Thin Film Transistor

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Salah satu bidang teknologi tinggi yang sangat mempengaruhi peradaban manusia di abad ini adalah teknologi semikonduktor. Pembahasan tentang divais semikonduktor tentunya tidak bisa lepas dari material semikonduktor itu sendiri sebagai bahan dasar pembuatan divais tersebut. Silikon (Si) dengan persediaan yang berlimpah di bumi dan dengan teknologi pembuatan kristalnya yang sudah mapan, telah menjadi pilihan dalam teknologi semikonduktor.
Silikon adalah material dengan celah energi yang tidak langsung, di mana nilai minimum dari pita konduksi dan nilai maksimum dari pita valensi tidak bertemu pada satu harga momentum yang sama. Ini berarti agar terjadi eksitasi dan rekombinasi dari membawa muatan diperlukan perubahan yang besar pada nilai momentumnya. Dengan kata lain, silikon sulit memancarkan cahaya. Sifat ini menyebabkan silikon tidak layak digunakan sebagai piranti fotonik/optoelektronik, sehingga tertutup kemungkinan misalnya membuat IC yang di dalamnya terkandung detektor optoelektronik atau suatu sumber pemancar cahaya dengan hanya menggunakan material silikon saja.
Salah satu piranti optik yang sering kita jumpai ialah monitor LCD komputer atau televisi di rumah. Bila menyentuh bagian permukaan layar, kita akan merasakan seolah tak ada jarak antara image yang ditampilkan dengan tangan kita. Begitu tipis dan penuh warna. Inilah karakteristik yang dibawa oleh TFT (Thin Film Transistor) dan beberapa teknologi panel lainnya.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dari makalah ini ialah :
  1. Bagaimana sejarah terciptanya monitor LCD TFT (Thin Film Tranistor)? 
  2.  Apakah yang dimaksud dengan TFT (Thin Film Tranistor)? 
  3.  Bagaimana prinsip kerja dari monitor LCD TFT (Thin Film Tranistor)? 
  4.  Apa perbedaan antara monitor CRT dan monitor LCD TFT? 
  5.  Apa saja keunggulan dan kelemahan dari monitor LCD TFT dibandingkan monitor-monitor jenis  lain?
 C.    Tujuan
            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalah ini ialah: 
  1.  Menguraikan sejarah terciptanya monitor LCD TFT (Thin Film Tranistor) 
  2.  Mendefinisikan pengertian TFT (Thin Film Transistor) 
  3.  Menjelaskan prinsip kerja dari monitor LCD TFT (Thin Film Tranistor) 
  4.  Menjelaskan perbedaan antara monitor CRT dan monitor LCD TFT 
  5.  Menguraikan keunggulan dan kelemahan dari monitor LCD TFT dibandingkan monitor-monitor jenis lain.  


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Teknologi Monitor
Paparan komputer peribadi yang terawal merupakan monitor monokrom yang digunakan untuk memproses kata dan sistem komputer berdasarkan teks pada dekade 1970-an. Pada tahun 1981, IBM memperkenalkan sistem paparan Penyesuai Grafik Warna (CGA). Sistem paparan ini berupaya memberikan empat warna, dan mempunyai peleraian maksimum 320 piksel datar dan 200 piksel tegak. Walaupun CGA mencukupi untuk kegunaan permainan komputer yang mudah seperti permainan solitaire dan permainan dam, ia tidak mencukupi untuk pemprosesan kata, penerbitan atas meja ataupun penggunaan grafik yang canggih.
Pada tahun 1984, IBM memperkenalkan sistem paparan Penyesuai Grafik Tertingkat (EGA) yang dapat memberikan sehingga 16 warna yang berlainan dan peleraian sehingga 640 x 350. Ini memperbaiki kelihatannya berbanding paparan yang lebih awal, dan memungkinan pembacaan teks dengan mudah. Bagaimanapun, EGA tidak memberikan peleraian imej yang mencukupi untuk kegunaan-kegunaan tahap tinggi seperti reka bentuk grafik dan penerbitan atas meja. Model ini kini sudah usang, walaupun ia terkadang masih boleh didapati dipemprosesan lama dan komputer peribadi di rumah kediaman.
Pada tahun 1987, IBM memperkenalkan sistem paparan Tatasusunan Grafik Video (VGA). Kini, ini telah merupakan piawai minimum yang dapat diterima untuk komputer pribadi. Peleraian maksimum tergantung kepada bilangan warna yang dipaparkan. Pengguna boleh memilih antara enam belas warna pada 640 x 480, ataupun 256 warna pada 320 x 200. Pada tahun 1990, IBM memperkenalkan sistem paparan Tatasusunan Grafik Terluas (XGA) sebagai waris untuk paparan 8514/A.
Versi yang berikut, yaitu XGS-2, memberikan peleraian 800 x 600 piksel dalam warna yang benar (16 juta warna) dan peleraian 1024 x 768 dalam 65,536 warna. Kedua tahap peleraian imej ini mungkin merupakan jenis yang terpopular di kalangan individu dan perniagaan kecil pada hari ini. Persatuan Piawai-Piawai Elektronik Video (VESA) telah mengasaskan antara muka pengaturcaraan piawai untuk paparan Tatasusunan Grafik Video Super (SVGA) yang digelarkan Sambungan BIOS VESA ("VESA BIOS Extension"). Lazimnya, paparan SVGA dapat mendukung palet sehingga 16 juta warna, tergantung kepada jumlah ingatan video yang tersedia dalam sesuatu komputer yang akan menghadkan bilangan warna yang dapat dipaparkan. Spesifikasi peleraian imej berbeda-beda. Pada umumnya, lebih besar skrin Monitor SVGA, lebih banyak piksel dapat dipaparkan secara datar dan tegak. Tahap perkembangan monitor computer yang digunakan saat ini sebenarnya terbagi dua fase.
Fase pertama pada tahun 1855 ditandai dengan penemuan tabung sinar katoda oleh ilmuwan dari Jerman, Heinrich Geißler. Ia merupakan bapak dari monitor tabung. Lalu, 33 tahun kemudian, ahli kimia asal Austria, Friedrich Reinitzer, meletakkan dasar pengembangan teknologi LCD dengan menemukan kristal cairan. Teknologi tabung sejak awalnya memang dikembangkan untuk merealisasikan monitor. Namun, Kristal cairan masih menjadi fenomena kimiawi selama 80 tahun berikutnya. Saat itu, tampilan atau frame rate pun belum terpikirkan.
Selama ini, banyak yang menganggap bahwa Karl Ferdinand Braun sebagai penemu tabung sinar katoda. Sebenarnya, ia merupakan pembuat aplikasi pertama untuk tabung, yaitu osiloskop pada tahun 1897. Perangkat inilah yang menjadi basis pengembangan perangkat lain, seperti televisi atau layar radar. Pada tahun yang sama, Joseph John Thomson menemukan elektron, yang mempercepat pengembangan teknik tabung. Monitor CRT pertama (Cathode Ray Tube) dikembangkan untuk menerima siaran televisi. Milestone-nya adalah tabung televisi pertama dari Wladimir Kosma Zworykin(1929), full electronic frame rate dari Manfred von Ardenne (1930), dan pengembangan tabung sinar katoda pertama yang dapat direproduksi oleh Allen B. Du Mont (1931). Pada generasi awal komputer, belum menggunakan monitor khusus seperti sekarang ini.
 Komputer waktu itu terhubung dengan TV keluarga sebagai layar penampil dari pengolahan data yang dilakukannya. Yang cukup menjadi masalah adalah bahwa resolusi monitor TV saat itu hanya mampu menampilkan 40 karakter secara horisontal pada layar. Monitor khusus untuk komputer dikeluarkan oleh IBM PC, yang pada awalnya memiliki resolusi 80 X 25 dengan kemampuan warna “green monochrome”. Monitor ini sudah mampu menampilkan hasil yang lebih terang, jelas dan lebih stabil. Pada generasi berikutnya muncul mono graphics (MGA/MDA) yang memiliki 720x350. Selanjutnya di awal tahun 1980-an muncul jenis monitor CGA dengan range resolusi dari 160x200 sampai 640x200 dan kemampuan warna antara 2 sampai 16 warna. Monitor EGA muncul dengan resolusi yang lebih bagus yaitu 640x350. Monitor jenis ini cukup stabil sampai berikutnya munculnya generasi komputer Windows. Semua jenis monitor ini menggunakan digital video - TTL signals dengan discrete number yang spesifik untuk mengatur warna dan intensitas cahaya. Antara video adapter dan monitor memiliki 2, 4, 16, atau 64 warna tergantung standard grafik yang dimiliki. Selanjutnya dengan diperkenalkannya standard monitor VGA, tampilan grafis dari sebuah Personal Computer menjadi nyata. VGA dan generasi-generasi yang berhasil sesudahnya seperti PGA, XGA, atau SVGA merupakan standard analog video dengan sinyal R (Red), G (Green) dan B (Blue) dengan continuous voltage dan continuous range pada pewarnaan.
Secara prinsip analog monitor memungkinkan penggunaan full color dengan intensitas yang tinggi. Generasi monitor terbaru adalah teknologi LCD yang tidak lagi menggunakan tabung elektron CRT tetapi menggunakan sejenis kristal liquid yang dapat berpendar. Teknologi ini menghasilkan monitor yang dikenal dengan nama Flat Panel Display dengan layar berbentuk pipih, dan kemampuan resolusi yang tinggi.
Dengan perkembangannya yang sangat pesat, saat ini terdapat empat jenis teknologi monitor. Keempat golongan teknologi tersebut adalah CRT (Cathode Ray Tube), Liquid Crystal Display (LCD), Plasma gas dan OLED (Organic Lighting Emitter Diode).

B.    Pengertian TFT (Thin Film Transistor)
TFT merupakan perangkat semikonduktor yang digunakan untuk memperkuat dan mengubah sinyal elektronik dengan bantuan film tipis dan lapisan dielektrik yang anti-listrik serta elemen kimia pada lapisan  selubungnya, dalam hal  ini pada monitor LCD.




TFT merupakan salah satu tipe layar Liquid Crystal Display (LCD) yang datar, dimana tiap-tiap pixel dikontrol oleh satu hingga empat transistor. Teknologi ini menyediakan resolusi terbaik dari teknik panel data. Layar TFT sering disebut juga active-matrix LCD. Layar ini dapat menampilkan gambar yang kaya warna tapi mahal. Dan permukaannya sensitif terhadap sentuhan. Selain itu layar ini tidak cocok untuk tampilan yang eksak seperti misalnya untuk CAD.

C.    Prinsip Kerja Monitor LCD TFT
            1.      Konsep Liquid Crystal (Kristal Cair)
Liquid Crystal diterjemahkan kristal cair. Padat dan cair merupakan dua sifat benda yang berbeda. Molekul-molekul benda padat tersebar secara teratur dan posisinya tidak berubah-ubah, sedangkan molekul-molekul zat cair letak dan posisinya tidak teratur karena dapat bergerak acak ke segala arah.
Pada tahun 1888, seorang ahli botani, Friedrich Reinitzer, menemukan fase yang berada di tengah-tengah antara fase padat dan cair. Fase ini memiliki sifat-sifat padat dan cair secara bersama-sama. Molekul-molekulnya memiliki arah yang sama seperti sifat padat, tetapi molekul-molekul itu dapat bergerak bebas seperti pada cairan. Fase kristal cair ini berada lebih dekat dengan fase cair karena dengan sedikit penambahan temperatur (pemanasan) fasenya langsung berubah menjadi cair. Sifat ini menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap temperatur. Sifat inilah yang menjadi dasar utama pemanfaatan kristal cair dalam teknologi.


        Untuk memahami sensitivitas kristal cair terhadap suhu, kita bisa menggunakan yang dikenal sebagai mood ring. Mood ring dianggap sebagai cincin ajaib yang punya daya magis yang dapat membaca emosi pemakainya. Perubahan suhu menyebabkan terpilinnya struktur molekul (twist) sehingga panjang gelombang cahaya yang diserap atau direfleksikan berubah pula. Sewaktu suhu meningkat, molekul kristal cair terpilin dan menyebabkan warna merah dan hijau lebih banyak diserap dan warna biru lebih banyak direfleksikan sehingga warna yang terlihat adalah biru tua. Suhu tubuh minimum saat sedang tegang karena pembuluh kapiler masuk semakin dalam sehingga suhu turun (digambarkan dengan warna hitam sebagai warna yang ditunjukkan kristal cair pada suhu terendah). Selain temperatur, kristal cair juga sangat sensitif terhadap arus listrik (beda potensial). Prinsip semacam inilah yang digunakan dalam teknologi LCD. Ini sebabnya layar laptop terkadang terlihat berbeda di musim dingin atau saat digunakan di cuaca sangat panas.
            2.      Nematic Liquid Crystal
Jenis kristal cair yang digunakan dalam pengembangan teknologi LCD adalah tipe nematic (molekulnya memiliki pola tertentu dengan arah tertentu). Tipe yang paling sederhana adalah twisted nematic (TN) yang memiliki struktur molekul yang terpilin secara alamiah (dikembangkan pada tahun 1967). Struktur TN terpilin secara alamiah sebesar 90o (gambar 5). Struktur TN ini dapat dilepas pilinannya (untwist) dengan menggunakan arus listrik.

  Pada Gambar 6, kristal cair TN (D) diletakkan di antara dua elektroda (C) dan (E) yang dibungkus lagi (seperti sandwich) dengan dua panel gelas (B dan F) yang sisi luarnya dilumuri lapisan tipis polarizing film. Lapisan A merupakan cermin yang dapat memantulkan cahaya yang berhasil menembus lapisan-lapisan sandwich LCD. Kedua elektroda dihubungkan dengan baterei sebagai sumber arus. Panel B memiliki polarisasi yang berbeda 90o dari panel F.




Begini cara kerja sandwich ajaib ini. Cahaya masuk melewati panel F sehingga terpolarisasi. Saat tidak ada arus listrik, cahaya lewat begitu saja menembus semua lapisan, mengikuti arah pilinan molekul-molekul TN (90o), sampai memantul di cermin A dan keluar kembali. Tetapi ketika elektroda C dan E (elektroda kecil berbentuk segi empat yang dipasang di lapisan gelas) mendapatkan arus, kristal cair D yang sangat sensitif terhadap arus listrik tidak lagi terpilin sehingga cahaya terus menuju panel B dengan polarisasi sesuai panel F. Panel B yang memiliki polarisasi yang berbeda 90o dari panel F menghalangi cahaya untuk menembus terus. Karena cahaya tidak dapat lewat, pada layar terlihat bayangan gelap berbentuk segi empat kecil yang ukurannya sama dengan elektroda E (berarti pada bagian tersebut cahaya tidak dipantulkan oleh cermin A). 



Sifat unik yang dapat langsung bereaksi dengan adanya arus listrik ini dimanfaatkan sebagai alat ON/OFF LCD. Tetapi sistem ini masih membutuhkan sumber cahaya dari luar. Komputer dan laptop biasanya dilengkapi dengan lampu fluorescent yang diletakkan di atas, samping, dan belakang sandwich LCD supaya dapat menyebarkan cahaya (backlight) sehingga merata dan menghasilkan tampilan yang seragam di seluruh bagian layar.
Perancangan dan pembuatan LCD tidak semudah konsepnya. Masalah pertama disebabkan tidak ada satu pun senyawa TN yang sudah ditemukan yang dapat memberikan karakteristik paling ideal. Ini berarti kristal cair yang digunakan harus merupakan campuran berbagai senyawa TN. Untuk mencampur senyawa-senyawa ini diperlukan percobaan untuk menentukan formulasi terbaik, dan hal ini bukan hal mudah.
Kadang-kadang dibutuhkan sampai 20 macam senyawa TN untuk mendapatkan karakteristik yang diinginkan. Bayangkan saja, mencampur dua macam senyawa saja sudah sangat sulit karena karakteristik masing-masing (misalnya rentang suhu) saling mempengaruhi. Belum lagi penentuan titik leleh campuran yang terbentuk. Selain itu, kristal cair TN yang terpilin sebesar 90o membutuhkan beda potensial sebesar 100% untuk mencapai posisi untwist (posisi ON).
Peter Le Comber dan Walter Spear (juga dari Inggris) menemukan solusi lain dengan cara menggunakan bahan semikonduktor silikon amorf untuk membuat Thin-Film Transistor (TFT) pada tiap pixel TN. Metode ini menghasilkan tampilan dengan kualitas tinggi tetapi memerlukan biaya produksi yang sangat mahal dan melibatkan proses pembuatan yang rumit. Tentu saja rumit, karena untuk menghasilkan gambar dengan kualitas 256 subpixel diperlukan sejumlah 256 pixel warna merah x 256 pixel biru x 256 pixel hijau, yang hasilnya sebanyak 16.8 juta. 16.8 juta transistor super mini harus dibuat dan dilekatkan ke lapisan TN. Tentu saja biayanya menjadi sangat mahal. Tetapi seiring dengan semakin majunya teknologi, biaya pembuatan TFT sedikit demi sedikit bisa ditekan karena ada penyederhanaan proses pembuatannya.

D.    Perbedaan Monitor CRT & Monitor LCD TFT
            1.      Monitor CRT
Memiliki warna lebih akurat dan tajam, resolusi monitor fleksibel, perawatan mudah, jika rusak dapat di servis, bebas dead pixel, ghosting dan viewing angle, harga lebih murah, monitor CRT mengkonsumsi daya listrik 2x lipat dibanding LCD pada ukuran inch yang sama, bergantung pada refreshrate, radiasi lebih besar, rentan distorsi, glare dan flicker, dimensi besar dan berat. 

Cara Kerja Monitor CRT

Input monitor ini adalah dari VGA ataupun yang lainnya. Sinyal gambar dari VGA ini kemudian diterima oleh rangkaian BLOK VIDEO dan rangkaian SYNCRONISASI HORISONTAL dan VERTIKAL.
Sinyal yang masuk ke blok video adalah sinyal warna merah, hijau dan biru atau Red green dan Blue, makanya rangkaian VIDEO sering disebut juga blok RGB. jadi blok video ini hanya mengolah warna saja. hasil dari blok ini adalah menuju ke katoda tabung yang juga terbagi menjadi 3 warna yaitu R, G dan B. katoda ini fungsinya untuk menghasilkan elektron, jadi masing-masing katoda menghasilkan elektron.
Sinyal syncronisasi vertikal dan horisontal diproses oleh rangkain syncronisasi untuk kemudian diteruskan ke rangkaian HORISONTAL dan rangkaian VERTIKAL. fungsi rangkaian sincronisasi ini adalah untuk mengolah dan menghasilkan gambar, sehingga jika sinyal ini hilang salah satu maka layar monitor akan kelihatan seperti diacak.
Jadi ada dua bagian pertama yang bekerja agar monitor nyala dan bekerja normal yaitu :
            1)      blok video dan
            2)      blok syncronisasi vertikal dan horizontal
Kemudian dari syncronisasi vertikal diteruskan ke rangkaian vertikal, di sini sinyal vertikal diolah dengan komponen utama IC VERTIKAL yang berfungsi menggerakkan yoke vertikal. Kemudian dari syncronisasi horisontal diteruskan ke rangkaian horisontal dan disini sinyal horisontal di olah dengan komponen utama transistor horisontal yang berfungsi menggerakkan flyback dan yoke tabung.
Flyback digunakan untuk menghasilkan tegangan sangat tinggi yaitu sekitar 26 KV, agar elektron dari katoda tabung dapat menembak ke anoda tabung sehingga muncul gambar. jadi kalau flyback tidak bekerja maka elektron tidak akan menembak dan monitor akan mati.
Yoke digunakan untuk mengarahkan elektron yang dihasilkan oleh katoda tabung agar terarah baik, yoke horisontal untuk mengarahkan elektron ke arah horisontal dan yoke vertikal untuk mengarahkan elektron ke arah vertikal, dan jika dua-duanya digabung maka elektron akan menembak ke anoda tabung secara merata dan sempurna.
Kemudian yang terakhir adalah rangkaian controller / driver dimana rangkaian ini berfungsi untuk mengatur settingan monitor, lebar sempitnya dan tinggi rendahnya serta terang gelapnya.
            2.      Monitor LCD TFT
Karakter bright yang nyaman dimata serta bebas distorsi, Tidak bergantung pada refreshrate, user frendly, hemat listrik, ukuran yang ringkas, ringan serta lebih keren, viewing angle terbatas, tampilan gambar baik hanya di resolusi native-nya, response time dan ghosting, warna kurang akurat, narga lebih mahal.
Cara Kerja Monitor LCD




Liquid Crystal Display (LCD): Sebuah teknologi layar digital yang menghasilkan citra pada sebuah permukaan yang rata (flat) dengan memberi sinar pada kristal cair dan filter berwarna.
• Hanya memakan sedikit ruang, rendah daya, dan panas yang dihasilkan lebih sedikit dibanding monitor CRT (cathode ray tube).
• Tidak ada flicker dan kedipannya sangat rendah sehingga enak dipandang   berjam-jam.
Untuk ukuran yang sama, harga lebih mahal dibanding monitor CRT.
Telah lama dipakai sebagai layar untuk laptop, komputer desktop juga telah mulai menggunakan monitor yang memakai teknologi LCD ini. LCD memiliki banyak kelebihan dibanding monitor CRT. Mereka mampu menampilkan teks yang jernih dan tidak ada flicker, yang berarti mengurangi kelelahan mata. Karena tebalnya kurang dari 10 inci (± 25 cm), monitor LCD untuk desktop mengambil ruang yang lebih kecil dibanding monitor CRT. Kekurangannya: kualitas warna layar LCD tidak dapat dibandingkan dengan monitor CRT, dan harganya yang mahal membuatnya tak terjangkau bagi kebanyakan orang. Ditemukan tahun 1888, kristal cair merupakan cairan kimia yang molekul-molekulnya dapat diatur sedemikian rupa bila diberi medan elektrik--seperti molekul-molekul metal bila diberi medan magnet. Bila diatur dengan benar, sinar dapat melewati kristal cair tersebut.

      SUMBER:
      http://www.yohanessurya.com/download/penulis/Teknologi_20.pdf
      http://agusdarmaputra.blogspot.com/2010/11/berbicara-monitor-tampakanya-sudah-hal.html
      http://12650129-imk.blogspot.com/2012/12/layar-tft-amoled-super-amoled-crt-led.htm

      Salam maple

Dunia Ini Ilusi



Waktu begitu cepat berganti
Seakan waktu terasa sempit untuk dinikmati...
Detik demi detik akan tumbuh menjadi tahun
Tahun demi tahun akan tumbuh menjadi abad
dan entahlah apalagi...

Dunia tak muda lagi
Dunia tak panjang lagi
dan masa dunia tak kan lama lagi

Dunia...hanyalah tempat persinggahan
Tempat berbaurnya ilusi-ilusi para insani, dan...
Tempat terangkainya sandiwara-sandiwara kehidupan dari Adam dan Hawa hingga anak cucunya...

Dunia...selalu menjadi tujuan untuk hidup
Selalu menjadi alasan untuk berumur panjang
Karenamu, banyak insan mengabaikan janjinya pada Sang Khalik...
Demi mewujudkan ilusi-ilusinya...

Namun, sadarkah kita???
Dunia ini tak muda lagi
Dunia ini perlahan terkikis oleh waktu
dan dunia ini tak kan abadi
Karena dunia ini hanyalah ilusi...


Oleh: Risma Amalia

Sunrise, Sunset, dan si Pendengar Setia


Oleh: Risma Amalia

Fajar pagi dan matahari senja adalah dua keadaan alam yang paling kusuka, bukan hanya aku, sebagian orang pun mengatakan hal seperti itu…sunrise dan sunset…begitulah istilah kerennya. Sekalipun harus kuliah pagi tak ingin kulewatkan sedetik pun peristiwa alam itu, paparan kilaunya mentari pagi yang begitu meneduhkan hati, saat itulah aku menyemangati diri sendiri untuk dapat menjalani hari ini. Sebaliknya, untuk melepaskan kepenatan dan hati yang penuh sesak ialah dengan memandang keindahan langit sore, seakan segala beban pikiran hari ini tenggelam bersama matahari yang pamit pulang.
Yap, hari yang kulalui tak sekedar pagi dan sore, siang kutempuh malam kuladeni, walaupun hanya sebagai mahasiswa yang tidak punya kesibukan sama sekali, ikut kegiatan kemahasiswaan pun tak pernah. Just study, study, and study, padahal tak pintar-pintar amat. Datar terasa…
“Kiyara Arayisha (panggilan pertama)… Kiyara Arayisha (panggilan kedua)… Kiyara?”
“Iya, iya pak saya hadir…” suara pelan itu mengagetkanku, sangking pelannya tak kudengar dosen elektronika ini memanggil namaku.
“Punya korek telinga gak di rumah? Kalau gak punya, nih bapak masih punya resistor yang baru dibeli, dijamin belum karatan” ejeknya.
“Untuk apa ya pak?” tanyaku polos.
“Yah untuk korek telinga kamu…”
“Hahahaha…” sontak teman sekelas tertawa.
“Makasih pak, kulit telinga saya masih sejenis dengan kulit manusia belum berganti ke kulit tembaga” jawabku dalam hati dan mengekspresikannya dengan senyuman bodoh.
***
“Saya rencananya mau buat robot yang bisa mendeteksi bahan semikonduktor, kira-kira bisa tidak yah? kalau Kiya mau buat apa?” pikir Muli yang kemudian bertanya padaku mengenai tugas kuliah yang paling tidak kusuka.
“Hmm…seandainya saya bisa, saya ingin buat otak pak Teguh normal kembali dan sadar kalau kita ini mahasiswa pendidikan, bukan mahasiswa elektro…bisa tidak yah?” ucapku sambil memelas.
“Hahaha, Kiya…Kiya…maksud Pak Teguh itu baik kok, dia mungkin ingin buktikan ke fakultas lain kalau mahasiswa pendidikan fisika itu tidak hanya bisa merangkai dan memodifikasi rumus-rumus, tapi merangkai komponen-komponen elektronik menjadi alat yang bermanfaat juga bisa. Pokoknya dengan usaha yang keras kita pasti bisa, mahasiswa pendidikan fisika itu kan…(dst)” celoteh Muli yang berusaha meluruskan pikiranku.
Semua yang Muli katakan tadi belum seutuhnya tercerna di pikiranku, aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, maklumlah mencerna kata-kata seorang aktivis mahasiswa itu sulit bagiku. Muli yang sudah punya banyak pengalaman membuat PKM di bawah bimbingan pak Teguh mungkin sudah terbiasa dengan cara berpikir dosen elektro itu, sampai-sampai tugas kuliah yang diberikan dianggapnya mudah.
Aku yang sedari tadi berjalan menelusuri padang rumput di kampus mencoba menatap langit sore dan berusaha menenggelamkan beberapa resistor dan kawan-kawannya bersama matahari. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson scoopy yang datang menghampiriku dari belakang.
pipppppppp…”
“Woy anak MaLang (Mahasiswa petuaLang), sudah capek jalan kakinya?” ejek kak Adi, kakak satu-satunya yang kumiliki.
“Iya sudah…kak Adi sudah dapat tanda tangan dari dosen pembimbing belum?”
“Alhamdulillah sudah, tinggal menunggu saja, eh…itu yang kamu pegang dompetnya siapa?” tanya kak Adi.
Sangking asyiknya menikmati jalan-jalan sore di kampus, ternyata aku lupa sudah menemukan sebuah dompet yang isinya mungkin masih sangat dibutuhkan si empunya.
“Oh iya, tadi dompet ini tercecer di sekitar padang rumput itu kak, nanti seninlah ku kembalikan”.
“Oke cepat naik, sudah hampir magrib…”
“Sore ini, apa lagi yang kamu titip sama si sunset…?” canda khas kak Adi saat perjalanan pulang.
“Tidak bisa diungkapkan kak, cukup aku dan si sunset yang tahu…” jawabku.
“Semoga saja besok si sunrise tidak membawa kembali titipanmu itu, hehe…” ejek kak Adi.
***
Malam minggu tiba, tidak ada yang bisa kukerjakan selain mendengarkan radio. Yap kebiasaan dari SMP terus terbawa hingga berada di jenjang perguruan tinggi. Apalagi radio imut berwarna oranye ini yang selalu menemaniku di kamar. Secret FM, my favourite channel bersama announcer yang super duper keren menurutku, ‘VJ Nara’ namanya. Hmm...entah kapan bisa bertemu langsung dengannya.
Hy Guys, bagaimana kabar kalian di malam minggu yang lagi gerimis ini? Semoga gak keguyur hujan yah. Hari ini saya sedang memikirkan sesuatu yang hilang, agak galau sih, doakan saya yah. Tapi walaupun saya lagi galau, Secreters jangan risau, saya akan selalu mendengar curhatan-curhatan dan mengiringi puisi kalian dengan gitar Nara…!!” celoteh sang announcer dengan gaya bicaranya yang ringan.
Sending message…*
Hujan…mengapa kau hadir? Membawa tirai awanmu yang gelap
Tidak kah kau tahu? titipanku menumpuk
Kehadiran sunset tak dapat kulihat…
Tolong jangan tutup kehadiran sunrise esok, aku takut jika semangatku tak terbit…“Jenk Ara”
Hampir setiap malam minggu kukirimkan puisiku ke program Secret FM ini. Senang sekali rasanya saat VJ Nara menyairkan puisiku bersama alunan gitarnya, seakan titipan yang ingin kuberikan kepada sunset lenyaplah sudah.
“Hmm…soal titipan, sepertinya ada yang terlupa…dompet, yah dompet coklat itu…” pikirku sambil mengobrak-abrik laci meja.
Kubongkar seluruh isinya dan menemukan setitik terang kejelasan tentang si empunya dompet.
“Danar Alamsyah…fakultas teknik elektro 2009…sepertinya saya kenal orang ini” sambil melihat foto di kartu mahasiswa itu dengan seksama.
***
Matahari begitu terik siang ini, seakan ingin memanggang seluruh otak mahasiswa pendidikan fisika yang memang selalu berada di puncak titik didihnya. Seperti hari biasanya, ada yang duduk di bawah pohon mencuri sesuap oksigen hasil fotosintesis, ada yang berdendang ria bersama alunan gitar, memangku laptop, makan di kantin, menunggu dosen, dan lain-lain. Tidak ketinggalan teman saya yang satu ini, Sri, nama kerennya Chy-kun, kebiasaannya setiap hari simpel saja ‘mencari kunci motor’ karena lupa simpannya dimana, hehehe.
“Chy-kun, bagaimana…sudah dapat kunci motornya belum?” teriakku yang sedari tadi menunggunya di parkiran motor.
“Belum Kiya, saya lupa tadi naruhnya dimana…” jawab Sri bingung.
Tiba-tiba seorang cowok dengan headset aneh di telinganya datang menghampiriku.
 “Permisi, kamu tahu ini kunci motor siapa, daritadi tergantung di sadel motor ini” sambil menunjukkan sesuatu yang sedaritadi dicari-cari.
“Oh iya, ini punya teman saya…makasih yah” jawabku lembut sembari mengingat sesuatu.
Ketika cowok itu beranjak dari pijakannya, baru teringat olehku kalau dia adalah si empunya dompet.
“Hey tunggu…” teriakku berusaha menahan langkahnya.
“Iya ada apa?”
“Hmm…kamu anak teknik elektro kan? Danar Alamsyah angkatan 2009?”
“Hmm iya, ada apa ya?”
“Wah kebetulan sekali, jumat kemarin saya dapat dompet di bawah pohon rumput sana, sepertinya ini dompet kamu…” jawabku sambil memberikan dompet coklat itu kepadanya.
“Alhamdulillah, iya ini betul dompet saya…terimakasih banyak ya, kayaknya sudah dua kali deh kamu menolong saya”
“Dua kali? Oh iya…”
Aku yang bingung dengan kata dua kali itu tiba-tiba mengingat sesuatu, waktu itu Danar sempat menjatuhkan headset-nya saat dia terburu-buru menuju ke rektorat. Bayangkan saja, saya harus ikut naik turun tangga rektorat hanya untuk memberikan headset anehnya itu.
“Sekali lagi terimakasih ya, kalau kamu ingin service alat elektronik atau butuh bantuan lainnya ini kartu nama saya”
Sri yang daritadi menyimak pembicaraan kami tiba-tiba membisikkan sesuatu di telingaku. Sepertinya apa yang dibisikkannya adalah ide yang sangat brilliant menurutku.
“Hmm…kalau bantu merakit alat bisa?” tanyaku malu-malu.
“Oke, sediakan saja ide alatnya bagaimana, tinggal cari waktu kapan kita bisa mulai…” jawabnya sambil tersenyum.
***
Seperti ritual sebelumnya, setelah shalat subuh kupandangi fajar pagi dari balik jendela kamar sambil menghirup kesejukan udaranya. Ketika sunrise tampak, aku berusaha meresapi energi positifnya dan menerbitkan semangat ku lagi. Yap, spesial untuk hari ini aku ingin sunrise dapat membangkitkan semangat kak Adi yang nanti akan yudisium, berharap dia bisa meraih gelar sarjana teknik arsiteknya.
“Cie cie…yang hari ini mirip kotoran cicak, pucatnya minta ampun…” ejekku kepada kak Adi.
“Ejek saja terus, nanti kalau kamu sudah jadi angkatan tertua, rasakan sendiri dag dig dug nya bagaimana” celoteh kak Adi.
“Makanya, Kiya harus belajar dengan benar, supaya saat yudisium kelak tidak gugup seperti kakak mu ini” canda Ayah yang secara tidak langsung menasehatiku.
“Adi jangan terlalu gugup, santai saja, jaga jantungmu…” sambung Ibu yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.
“Tuh dengar kata Ibu, jangan sampai pas dengar pertanyaan dari dosen malah jantungan…hehehe peace mybro, tenang saja saya sudah bilang kok sama si sunrise untuk menyemangati kak Adi hari ini” candaku.
Kak Adi hanya tertawa kecil mendengar candaanku.
***
Mengajar di depan teman-teman dan dosen hari ini sukses besar, Fisika Sekolah II berhasil kutaklukkan dengan materi ‘usaha dan energi’ sebagai senjatanya. Thanks for sunrise untuk semangatnya hari ini. Tiba-tiba aku terpikir dengan kak Adi, semoga dia sama suksesnya denganku. Aku mencoba mengaktifkan handphone oranye yang daritadi kunon-aktifkan, beberapa menit kemudian satu pesan masuk kuterima dan itu dari kak Adi.
 Mysist, bilang sama si sunrise, ini terakhir kalinya dia memberikan semangat kepada saya, karena saya tak butuh lagi semangat darinya. Gelar sarjana teknik arsitektur telah saya dapatkan…hahaha”
Membaca pesan itu membuatku senang tak terkira, berasa ingin cepat-cepat pulang ke rumah merayakan kesuksesan kakak bersama Ayah dan Ibu. Tapi sebelumnya aku harus berkonsultasi dengan Danar mengenai alat elektro yang ingin kubuat. Kalau sudah buru-buru begini, Sri jadi sasaran empuk untuk jadi teman nebenk.
“Chy-kun, nebenk dong ke fakultas teknik elektro…” bujukku.
“Sabar yah Kiya, saya lagi mencari sesuatu nih…” jawab Sri sambil tersenyum campur gelisah.
“Kunci motor lagi?” tanyaku keheranan.
Namun secara tidak langsung Sri memberikanku inspirasi tentang alat yang akan aku konsultasikan bersama Danar.
***
Hari berganti hari, tak terasa gantungan kunci pendeteksi barang hilang berbasiskan bluetooth ala Danar dan aku sudah mencapai 90%. Tak lupa kubuatkan satu khusus untuk Sri. Aku sudah mulai tertarik dengan dunia elektro, lama-kelamaan apa yang dikatakan Muli pada waktu itu menurutku benar adanya.
Danar adalah mahasiswa elektro yang berbakat, bukan hanya teori, praktek elektro pun mantap dia terapkan. Sampai suatu saat aku penasaran dengan headset aneh yang sering dia gunakan, entah itu headset canggih tanpa kabel, atau sejenis handphone, maklumlah aku kurang up to date dengan barang-barang canggih seperti itu.
Hingga suatu hari aku tahu kebenarannya. Saat itu Danar mengantarku pulang ke rumah. Ibu yang sedang menyiram taman tiba-tiba kaget melihat Danar.
“Eh Danar…ya ampun sudah lama Ibu tidak ketemu kamu, bagaimana kabarnya nak?” sapa Ibu sambil memberikan telapak tangannya untuk disalami dengan Danar.
“Alhamdulillah baik bu…” jawab Danar tersenyum.
“Ibu kenal Danar dimana?” tanyaku penasaran.
“Danar ini pernah jadi murid Ibu di SMP…”
“Memangnya Ibu pernah mengajar di SMP mana selain di SLB (Sekolah Luar Biasa)?” tanyaku lagi yang semakin penasaran.
“Maksud Ibu SMP di Sekolah Luar Biasa…ini murid kebanggaan Ibu loh…” kata Ibu penuh bangga.
“Owh…”
Hanya kata itu yang bisa kukeluarkan, namun di dalam hati kata “luar biasa” yang tak henti-hentinya kuucapkan. Danar hanya tertawa kecil mendengar pembicaraanku dengan Ibu.
***
“Kiyara, saya mau alat ini kamu ajukan untuk PKM tahun ini…” kata pak Teguh yang sangat menyukai hasil karyaku dengan Danar.
Oh no, ujung-ujungnya pasti ketiga huruf itu yang keluar dari mulut bapak ini P, K, dan M” kataku dalam hati dengan keringat yang bercucuran.
“Tapi pak, saya sama sekali belum punya pengalaman membuat PKM” kataku yang mencoba menghindar dari keikutsertaan ini.
“Tenang saja, Muli bisa bantu kok…kalian tinggal mencari satu rekan kerja lagi, entah dari sesama mahasiswa pendidikan fisika atau dari fakultas lain” jawab pak Teguh dengan santainya.
Mau bagaimana lagi, perintah pak Teguh tak bisa ku tolak, hitung-hitung tambah pengalaman ikut kegiatan mahasiswa seperti ini. Akhirnya, aku, Muli, dan Danar pastinya, menjadi satu kelompok untuk membuat proposal PKM ini.
Selang beberapa minggu kemudian, kerja keras kami membuahkan hasil yang manis. Proposal kami diterima untuk maju ke Pimnas yang kali ini diadakan di Bandung. Aku sangat senang bisa menjadi salah satu mahasiswa yang beruntung merasakan kemenangan ini. Namun di sisi lain aku merasa sedih karena tak dapat menghadiri acara wisuda kak Adi yang bertepatan dengan kompetisi ini. Kak Adi berusaha meyakinkanku, kalau aku harus meneruskan perjuanganku bersama Muli dan Danar.
***
Tak terasa tiga bulan terlewatkan begitu cepatnya. Kepergian kak Adi untuk selamanya belum bisa kupercaya. Hanya foto wisudanya yang bisa kupandangi, tak ada lagi pendengar setiaku, tak ada lagi yang bisa mendengar lagu-lagu jelekku. Aku juga ingin memperlihatkan trofi kemenangan ini dan memberikannya satu buah gantungan kunci hasil karyaku bersama teman-teman, sebagai hadiah kecil pertama yang belum pernah kuberikan sebelumnya.
“Selamat ulang tahun mybro…”
Aku berharap sunset dapat menyampaikan ucapanku kepada dia yang berada jauh di sana. Air mata di pipiku tak terasa menetes, semilir angin di padang rumput kampus ini menambah kegundahan hatiku.
Tiba-tiba terdengar suara gitar dari balik pohon yang sedaritadi menjadi tempatku bersandar. Rupanya Danar datang untuk menghiburku dengan gitarnya. Aku baru tahu kalau dia mahir bermain gitar, merdu sekali. Entah mengapa tiba-tiba kulontarkan pertanyaan kepadanya yang selama ini ingin sekali kutanyakan.
“Danar, saya ingin tahu, apa kamu pernah malu dengan kondisi fisik yang tidak sempurna seperti ini?” tanyaku dengan suara lembut, takut jika dia merasa tersinggung.
“Awalnya, terlahir sebagai penyandang tuna rungu itu sungguh membuat saya merasa tak berguna. Hanya bisa melihat dan merasa tanpa tahu apa yang mereka katakan dan rasakan sebenarnya, tanpa tahu bagaimana mendengar suara sendiri, dan tanpa tahu bagaimana suara alam yang Tuhan karuniakan. Tapi lama-kelamaan saya merasa tak perlu malu dengan keadaan seperti ini, saya berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Bekerja sampingan menjadi penyiar radio sudah cukup bagi saya untuk mendengar curhatan beribu-ribu orang di kota ini. Dan salah satu keinginan saya…saya ingin menjadi pendengar setia untuk Jenk Ara, yang sudah berbulan-bulan tidak mengirimkan puisinya lagi ke program malam minggu Secret FM. Seandainya dia tahu, kalau VJ Nara sangat ingin menyairkan puisi-puisinya lagi dengan gitar ini” jawab Danar dengan panjang lebarnya.
Mendengar pengakuan Danar, aku merasa terkejut.
“VJ Nara itu kamu?” tanyaku untuk meyakinkan kembali.
“Yap, hehehe…”
Aku pun berdiri dari sandaran, dan mencoba berteriak sekeras-kerasnya.
Sunset…katakan titipan ku ini pada sunrise dan kakak, Kiya sekarang sudah menemukan pendengar setia yang baru…”
PENDENGAR SETIA
Ketika dirimu duduk termenung, di antara guguran dedaunan
Aku datang…dengan petikan gitarku
Sengaja hanya untuk menghiburmu…
Kulihat dirimu seperti menanggung, beban hidup yang ingin kau lepaskan
Aku datang…dengan petikan gitarku
Mencoba memasuki ruang dalam benakmu…
Dengan sejuta tanya, dan misteri dari dirimu
Tak kusangka kau menitikkan air mata
Hingga getaran senar kuhentikan, agar dapat menjadi pendengarmu…
Dari sejuta puisi yang kau ciptakan
Hanya puisi hidupmu yang tidak kutahu
Dari rangkaian nada gitarku bergetar
Aku dapat mendengar puisi cerita hidupmu…
Izinkanlah aku menjadi pendengar setiamu…

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.