Tampilkan postingan dengan label Writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Writing. Tampilkan semua postingan

A Father’s Laughter



Oleh: Risma Amalia

   Sepuluh hari menjelang tanggal 10 Februari. Malam ini Dania mulai menyusun misi. Kertas putih di atas meja belajarnya dipenuhi coretan tangan tentang hal-hal apa saja yang akan dilakukannya sebelum tanggal tersebut. 
“Nia, ayo nak, makan malamnya sudah siap” ajak Ibunya yang memanggil dari kejauhan namun terasa dekat di telinga.
“Iya Buk, Nia segera kesana”. Dania tak ingin kalah, diapun menjawab dengan lantang. Dibereskannya dengan cepat barang yang berserakan di meja belajarnya. Kalau Ibu sudah memanggilnya untuk makan malam, itu tandanya Ayah sudah pulang kerja.
“Ayah…” teriak Dania.
 Seperti biasa dia menyapanya sambil memberikan sebuah pelukan hangat dan dibalas dengan kecupan dahi oleh sang Ayah. Dania tersenyum lebar dihadapan Ayahnya, tapi tetap saja dibalas dengan ekspresi wajah yang datar. Ada sesuatu yang dia rindukan dari sang Ayah yang belakangan ini tak nampak, senyuman bahkan canda tawanya.
Dahulu setelah makan malam usai, mereka biasanya menyaksikan lawakan bersama di TV, dan tertawa terbahak-bahak bila Ayah menambahkan lelucon polosnya. Dan kini saat mereka menonton lawakan bersama, sekeras apapun tawa Dania dan Ibunya tak memberikan efek apapun bagi sang Ayah. Bell’s Palsy sudah merenggut ekspresi senyuman dari wajah Ayahnya sejak enam bulan yang lalu. Berbagai terapi telah dilakukan tapi tetap saja tak mempan, Dania merasa kasihan pada Ayahnya.
 ***
     Hari pertama di bulan Februari, sepulang sekolah Dania mulai melancarkan aksi untuk mencapai misinya. Pertama-tama dia berusaha mencari tahu tentang hobi masa kecil Ayahnya. Menurutnya tempat yang tepat untuk mencari informasi adalah ruang kerja Ayah yang selalu terkunci rapat.
    “Buk, Nia punya misi yang harus segera dijalankan, dan kali ini Nia butuh bantuan Ibu” bujuk Dania.
    “Owalah, kok tumben punya misi-misian, biasanya kamu kerjanya ngurung diri di kamar. Kalau bukan baca, nge-blog, ya nyoret-nyoret kertas” ledek Ibu.
     “Ini misi untuk Ayah Buk, Ibu bantuin yah, please…” rengek Dania.
    Dengan mengantongi izin dari Ibu untuk memasuki ruang kerja, ia pun bergerak cepat sebelum Ayahnya pulang dan memergokinya.
    Sensasi pertama yang Dania rasakan saat memasuki ruang kerja Ayahnya adalah monokrom, karena efek dari bingkai-bingkai dan miniatur Chaplin menghiasi ruangan ini. Ya, Ayahnya adalah penggemar berat Charlie Chaplin. Hanya deretan buku-buku koleksi Ayahnyalah yang memberikan warna pada ruangan ini.
      Dari awal dia tahu hobi Ayahnya dari kecil adalah membaca. Hingga hobi itu mengantarkannya ke profesinya yang sekarang yaitu sebagai seorang pustakawan dan pengusaha toko buku. Tapi bukan itu hobi Ayah yang Dania cari. Ada suatu hobi Ayah semasa muda yang Paman Zaid pernah ingin ceritakan kepadanya, namun Ayah tak mengizinkan Paman untuk bercerita karena baginya itu hal yang memalukan. Dari situlah timbul rasa penasaran Dania.
       Satu per satu lemari dibukanya. Hampir lima belas menit waktu berjalan belum ada suatu barang apapun yang mencurigakan. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah kotak besi berwarna merah tepat di sudut dalam lemari. Beruntung kotak itu tidak terkunci. Kotak itu berisikan kumpulan origami merah berbentuk hati. Dania mengosongkan kotaknya dan memasukkan semua origami itu ke dalam kantung jaketnya dengan hati-hati. Ia berencana membaca isi tulisannya di kamar.
       “It’s time to read the secret…” gumam Dania sambil melangkah menuju ke kamarnya.

***
    Total empat puluh lembar origami itu dibacanya lalu ditulisnya sampai larut malam. Alhasil rasa kantukpun tak tertahankan saat berada di sekolah.
   “Tumben hari ini tidur-tiduran di kelas, ditegur sama Pak Farid pula, apa Nia punya masalah?” selidik Vanya.
   “Saya gak punya masalah Van, saat ini saya hanya punya misi” tandas Dania lalu menyesap kembali minuman greentea-nya.
    “Misi apaan?” tanya Vanya.
    “Ada pokoknya…Eh, by the way kak Rayan masih sering ikut pantomim gak sih?” selidik Dania.
  “Iya, dia masih sering ikut dan kebetulan besok kak Rayan sama teman-teman teaternya mengadakan pentas seni di auditorium seni pusat” jelas Vanya.
   Mendengar informasi tersebut Dania hanya tersenyum lebar tanpa kata dan Vanya hanya terheran-heran melihat ekspresi wajah teman sebangkunya itu.
  Keesokan harinya, Dania dan Vanya janjian untuk pergi ke auditorium seni pusat. Mereka menyaksikan keseruan pentas seni yang diadakan sanggar seni Taruna dalam rangka dirgahayunya yang ke-29 tahun berkiprah di dunia teater Indonesia. Sebenarnya Dania punya maksud lain menghadiri pentas seni ini, dan itu menyangkut misinya.
    “Hai kak Rayan” sapa Dania saat tim Taruna baru saja membubarkan diri dari pertemuan akhirnya.
     “Eh hai, ini Dania teman Vanya bukan?” tanya Rayan setengah ragu karena mereka baru bertemu dua kali saat pesta ultah Vanya yang ke-13 dan ke-14 tahun waktu itu.
     “Tepat sekali. By the way, penampilan kak Rayan saat jadi pantomim tadi patut diacungi jempol kak”
      “Terimakasih, sering-seringlah nonton pentas kami ini” kekeh Rayan.
      “Oh ya, Vanya kemarin cerita kalau kamu mau minta bantuan sama saya, apa itu?” lanjutnya.
   “Bagaimana kalau kita membicarakannya di cafe dekat sini saja kak, Vanya sudah menunggu disana, tenang saja Dania yang traktir” bujuk Dania.
    “Okelah kalau begitu, tapi saya bereskan ini dulu ya” ucap Rayan sambil mengelap wajahnya yang masih berdempulkan bedak putih yang ketebalannya entah berapa mili. Dan Dania membayangkan dirinya bila nantinya di-makeup seperti itu.
   Selang beberapa jam kemudian, perbincangan Dania dan Vanya di cafe terlihat begitu santai. Sedang Rayan sibuk dengan beberapa lembaran kertas yang baru saja diperlihatkan Dania, kadang beberapa kali ia tertawa sendiri saat membacanya. Dan secara tidak langsung Dania sudah membeberkan rahasia masa muda Ayahnya yang dianggapnya tidak begitu memalukan.
  “Kalau kamu ingin sukses memerankannya, kamu harus rajin latihan dan besok kita mulai latihannya” tandas Rayan.
   Dania terlihat sangat bersemangat mendengarnya dan ini semua dilakukannya untuk mencapai misinya.
 ***
     Hari yang dinanti-nanti telah tiba. Ultah Ayahnya yang ke-42 tahun diadakan di rumah mereka dan hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat. Namun Dania tidak lupa untuk mengundang Vanya dan Rayan yang nanti akan membantunya.
   Sesekali Dania mengintip Ayahnya yang tengah berbincang bersama keluarga. Dania sedih, Ayahnya tidak bisa menunjukkan ekspresi kebahagiaannya dihadapan orang-orang, sedang orang lain bahkan tertawa lepas dihadapan Ayahnya. Dia khawatir bila misinya gagal.
   “Dania, Dania…kenapa dandannya lama sekali sayang, tamu sudah pada nunggu di bawah, ayo cepat” teriak Ibunya.
    “Iya buk sudah selesai kok”. Dania tiba-tiba keluar dari kamar dengan dandanan yang tidak biasa bahkan membuat Ibunya kaget setengah mati.
     “Ya ampun kenapa dandanan kamu seperti valak gini nak” celetuk Ibunya.
     “Buk, jangan ngeledek deh, ini tampilan ala Charlie Chaplin bukan valak” ketus Nia.
   “Ibu dampingi Ayah saja ya, nanti Nia nyusul, soalnya Nia mau buat pentas mini” lanjut Dania sambil mendorong lembut pundak Ibunya.
   “Ini yang kamu bilang MISI?” kekeh Ibunya. Dania hanya mengangguk malu dan  tersenyum simpul.
    Ibunya Dania tak tahu apa-apa soal pentas mini yang diadakan Dania bersama teman-temannya. Dia hanya memberikan ruang dan memberitahukan kepada para tamu untuk tenang dan menyaksikan suguhan dari putrinya.
     “Buk, ini pentas apa sih kok Ayah gak diberitahu. Terus Danianya mana daritadi gak kelihatan?” tanya Ayah dengan bibir menceng dan ekspresi datarnya.
      “Sudah, kita nonton saja Yah” bujuk Ibu sambil memapah Ayah ke sofa.
     Beberapa lampu utama dimatikan, yang bersinar hanyalah lampu sorot. Mereka sudah bersiap-siap. Rayan berperan sebagai narator, Dania sebagai Chaplin KW dan Vanya berperan sebagai Nadia, Ibu Dania.
            Surat cinta Aidan untukmu Nadia…
    Rayan membacakan narasi sesuai dengan apa yang dituliskan Ayah Dania di origami merah itu. Kemudian Dania mengikuti narasi yang dibacakan Rayan, ia bergerak tanpa suara layaknya seorang pantomim. Sedang Vanya berusaha bertingkah sebagai Nadia yang cerewet, gesit dan bersuara lantang. Ibu Nadia dan para tamu sampai tertawa terbahak-bahak menyaksikan penampilan mereka, kecuali Pak Aidan, Ayah Dania. Mungkin dia tertawa tapi tidak bisa menunjukkannya.
     "Loh, kok bisa ketahuan gini?" tanya Ayah keheranan.
   “Ayah, kok gak pernah bilang sih sama Ibu kalau Ayah yang jadi Chaplin konyol waktu itu?" Ibu Nadia cemberut.
   "Ibu saja yang gak pernah peka" jawab Ayah datar.
  "Terus kenapa selalu gangguin Ibu kalau lagi di taman, sampai-sampai Ibu pernah ngejar Chaplin konyol pake kayu, Ayah ingat kan?” gerutu Ibu Nadia.
   “Ya ingatlah, itu kejadian yang memalukan selama Ayah nyamar jadi Chaplin. Tapi asal Ibu tahu saja, waktu itu Ayah suka gangguin Ibu soalnya...ehm...marahnya Ibu itu ngangenin” seloroh Pak Aidan sambil melingkarkan tangannya di pundak istrinya.
     "Ayahh...". Wajah Ibu Nadia memerah, ia tersenyum malu dihadapan suaminya.
    Ya, hobi Ayah Dania semasa muda adalah mengganggu Ibu dengan menyamar sebagai Chaplin yang konyol. Padahal dari muda sampai punya anak satu, Pak Aidan terkenal karena kesantunannya. Makanya, hobi itu dianggapnya sebagai hal paling memalukan yang pernah ia lakukan.
     Dania sangat senang ketika penampilan mereka sukses membuat para tamu terhibur dan juga bisa memutar kembali kisah nostalgia Ayah dan Ibunya. Tapi dilain hal misi ini dianggapnya gagal, misi untuk membuat Ayahnya tertawa. Dania sempat kecewa, tapi dia sadar bahwa membuat Ayahnya tertawa adalah kehendak Tuhan. Toh tertawa hanyalah sebuah bingkisan, sedang kelucuan dan kebahagiaan sebenarnya hanya bisa dirasakan oleh yang punya hati.
   “Dania, ponakan Paman yang smart-nya pake banget, hehehe. Akhirnya kamu bisa pecahkan sendiri hobi masa muda Ayahmu yang konyol ini iyakan?” canda Paman Zaid sambil mencoba melepas kumis Chaplin yang Dania pakai.
  “Ouwhh Paman…” seketika Dania terjingkrak-jingkrak kesakitan, air matanya tak bisa dibendungnya.
            “Vanyaa…kamu pake lem apa sih buat nempelin kumis ini?” teriak Dania.
            “Sorry, sepertinya saya salah ambil lem deh” cengir Vanya.
            Ibu dan yang lainnya hanya bisa tertawa. Namun ada tawa lain di balik itu.
            “Ayah, ya itu tawa Ayah” gumam Dania.
    Dan mereka semua melihat Pak Aidan tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Dania. Pak Aidan kemudian bercerita mengapa dia bisa tertawa seperti itu. Rupanya hal yang sama pernah dilakukan Paman Zaid kepadanya dan itu suatu kebetulan yang sangat konyol menurutnya.

     Dania memeluk erat Ayahnya, rasa sakit yang tadi dirasakannya seakan sudah hilang tergantikan dengan rasa bahagianya saat ini. 
Because, a Father’s laughter is the greatest happiness for his Daughter.


Kalian-Kalian Rinduku



Tahukah kalian, aku rindu
Aku benar-benar rindu
Rindu serindu-rindunya dengan kalian
Kalian semua yang pernah mengisi hari-hariku

Jangan kira aku hilang lantas memori inipun ikut hilang
Tidak...
Jangan kira kita tak bersua lantas aku tak ingin tahu kabar kalian
Tidak...
Kapanpun ku mau disela waktuku, aku mencari kabar kalian dan membaca kisah kalian 

Tahukah kalian, aku biasanya tersenyum sendiri, cekikikan sendiri bila membaca kisah lucu kalian
Timbul juga rasa bangga ketika kalian melakukan sesuatu yang berharga
Sedih dan prihatin ketika kalian dirundung duka
Kadang aku memberi masukan lewat telepati, walaupun kalian tak memasang radar saat itu
Mungkin terdengar aneh di telinga kalian, tapi itulah caraku
Caraku mengatasi rasa rindu

Aku tak bisa mengukur seberapa dalam rasa rindu kalian padaku
Tapi aku tahu kalian takkan pernah melupakan si pemalu ini
Si pemalu yang katanya suka menghilang
Eh jika suatu saat kalian mendapatiku, jangan pernah tanya alasanku menghilang
Karena diri inipun tak tahu jawabannya

Kalian boleh menganggapku orang aneh, tapi jangan menganggap kerinduan ini aneh
Karena aku penganut rindu itu indah

Mohon dimaafkan pemikiran si pemalu ini 
yang katanya rindu tapi urung bertemu...


Palu, 29 November 2016
00.00 WITA

Jual Peralatan Makan Terlengkap dan Termurah di MelamineMall.com, untuk Peralatan Makan Usaha Rumah Makan Anda

Jual peralatan makan terlengkap dan termurah di Melaminemall.com - Bagi para pelaku usaha kuliner yang memiliki rumah makan dan sejenisnya, selera makan pelanggan adalah hal yang paling dinomorsatukan. Selain soal cita rasa masakan dan cara penyajiannya, selera makan pelanggan juga dipengaruhi oleh peralatan makan dan minum yang disediakan oleh pengusaha kuliner. Peralatan makan dan minum sangat penting lho, karena sebagai faktor pendukung agar pelanggan menyantap makanan dengan menyenangkan.

  Mencari peralatan makan dan minum saat ini sudah sangat mudah, apalagi dengan banyaknya kitchen store yang berkembang pesat di kota Anda. Namun, jika Anda sibuk dan tidak punya waktu untuk menyambangi kitchen store, Anda bisa mencarinya secara online. Saat ini banyak toko online yang menjual berbagai macam peralatan dapur dan peralatan makan. Jadi, tak perlu lagi membuang tenaga dan waktu produktif Anda hanya untuk bersusah payah berbelanja kesana-sini mencari peralatan makan, cukup online di tempat Anda saja dan pilih peralatan sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
Nah, kira-kira kriteria peralatan makan seperti apa yang dibutuhkan untuk menunjang usaha kuliner Anda? Sudah pasti peralatan makan yang berkualitas, menarik dipandang, tahan lama, kuat, dan harganya terjangkau bukan?

Salah satu toko online yang "jual peralatan makan terlengkap dan termurah di Melaminemall.com". Disini Anda dapat menemukan peralatan makan yang Anda butuhkan dengan mencakup kriteria-kriteria tersebut.
Bagi Anda yang baru menjajaki usaha kuliner maupun yang sedang menjalaninya, saya sarankan untuk melihat promo alat makan terbaru di Melaminemall.com yang jual set alat makan terlengkap dan jual alat peralatan makan harga grosir


     www.melaminemall.com

      Sebelum Anda melakukan belanja online, ada baiknya Anda mengenal terlebih dahulu profil dari toko online tersebut. Dari informasi yang saya dapatkan, Melaminemall.com merupakan situs ecommerce penjualan produk peralatan makan terlengkap nomor 1 di Indonesia, memiliki produk peralatan makan dengan total kurang lebih 490-an variasi yang ready stock. Hadirnya website Melaminemall.com digagas oleh praktisi teknologi informasi Romeison Gulo (founder) yang bertujuan mempermudah pembeli dalam mencari perlengkapan rumah yang spesifik khusus peralatan makan berkualitas dan terjangkau untuk semua kalangan. Terpercaya bukan?

Ada peralatan apa saja di Melaminemall.com yang dapat Anda beli untuk menunjang usaha kuliner Anda? Ternyata Melaminemall.com menjual berbagai jenis peralatan makan dan minum dengan bentuk dan pilihan warna yang menarik lho, seperti:
Melaminemall.com walaupun memberikan harga grosir termurah, namun peralatan makannya terjamin aman karena terbuat dari bahan berkualitas. Belanja online di Melaminemall.com juga terjamin aman karena dilengkapi dengan data rekening yang valid. Selain pembayarannya mudah, barang yang dibeli akan dikirim langsung ke lokasi Anda.
Ayo klik di Melaminemall.com sekarang juga!
Happy shopping yah dan sukses untuk usaha kuliner di rumah makan Anda !



Kata Mereka



Huruf dan angka, ingin hidup menjadi sekelompok tulisan di dalam setumpuk kertas...

Mereka bersorak membangunkan otak-otak pemalas.
"Bangun...bangun...kami ingin segera diolah. Sungguh ruginya kami menunggu, terperangkap dalam khayalan dan imajinasi sesaat"
"Kalian tahu hey otak pemalas! Orang-orang diluar sana sudah menunggu kombinasi kami olehmu" 
"Tidakkah kau sadar hey pencipta makna! karyamu ditunggui, karyamu dirindui..."

Oleh: Risma Amalia

Impian vs partikel kemalasan


Sekilas tergilas dalam gelapnya ruang

tak nampak cahaya gemilang benderang
Tertekuk lutut menciumi pijakan
terbebani massa partikel kemalasan yang menghujat
Pikiran mulai larut dalam zona nyamannya
sayup mata ingin menutup diri…

Sorakan nurani mulai bergemuruh,
sel-sel otak tak ingin tinggal diam
Mereka berlari mengejar kembali impian yang pernah terusir dan tersisihkan oleh keangkuhan partikel kemalasan,
Impian yang pernah terasah tajam, namun lama-kelamaan tumpul terkikis oleh partikel kemalasan,

Mulut berucap, “impian itu, apa kabarnya kini? masih ingatkah dia kepadaku si penciptanya?”

Sambutan tangan kawan lantas memberi arti,
Mereka berkata, “genggamlah aku, kubantu engkau berdiri dengan benar!”
Tanganku bergetar ingin menyambutnya, namun partikel kemalasan itu memperbanyak dirinya,
“bangunlah kawan, lawan partikel kemalasan itu, jangan sampai ia menguburmu terlalu dalam, ayo kita jemput impian itu”

Kucoba untuk bangkit dan mencoba mengukir kembali komitmen bersama impian itu di atas kertas, sebagai prasasti yang tak boleh terlupakan…
Tengoklah prasasti itu, jika partikel kemalasan mulai merasukimu
Berpegang teguhlah pada komitmen yang terukir di dalamnya, jangan hanya dijadikan pajangan semata…


Oleh: Risma Amalia

Dunia Ini Ilusi



Waktu begitu cepat berganti
Seakan waktu terasa sempit untuk dinikmati...
Detik demi detik akan tumbuh menjadi tahun
Tahun demi tahun akan tumbuh menjadi abad
dan entahlah apalagi...

Dunia tak muda lagi
Dunia tak panjang lagi
dan masa dunia tak kan lama lagi

Dunia...hanyalah tempat persinggahan
Tempat berbaurnya ilusi-ilusi para insani, dan...
Tempat terangkainya sandiwara-sandiwara kehidupan dari Adam dan Hawa hingga anak cucunya...

Dunia...selalu menjadi tujuan untuk hidup
Selalu menjadi alasan untuk berumur panjang
Karenamu, banyak insan mengabaikan janjinya pada Sang Khalik...
Demi mewujudkan ilusi-ilusinya...

Namun, sadarkah kita???
Dunia ini tak muda lagi
Dunia ini perlahan terkikis oleh waktu
dan dunia ini tak kan abadi
Karena dunia ini hanyalah ilusi...


Oleh: Risma Amalia

Sunrise, Sunset, dan si Pendengar Setia


Oleh: Risma Amalia

Fajar pagi dan matahari senja adalah dua keadaan alam yang paling kusuka, bukan hanya aku, sebagian orang pun mengatakan hal seperti itu…sunrise dan sunset…begitulah istilah kerennya. Sekalipun harus kuliah pagi tak ingin kulewatkan sedetik pun peristiwa alam itu, paparan kilaunya mentari pagi yang begitu meneduhkan hati, saat itulah aku menyemangati diri sendiri untuk dapat menjalani hari ini. Sebaliknya, untuk melepaskan kepenatan dan hati yang penuh sesak ialah dengan memandang keindahan langit sore, seakan segala beban pikiran hari ini tenggelam bersama matahari yang pamit pulang.
Yap, hari yang kulalui tak sekedar pagi dan sore, siang kutempuh malam kuladeni, walaupun hanya sebagai mahasiswa yang tidak punya kesibukan sama sekali, ikut kegiatan kemahasiswaan pun tak pernah. Just study, study, and study, padahal tak pintar-pintar amat. Datar terasa…
“Kiyara Arayisha (panggilan pertama)… Kiyara Arayisha (panggilan kedua)… Kiyara?”
“Iya, iya pak saya hadir…” suara pelan itu mengagetkanku, sangking pelannya tak kudengar dosen elektronika ini memanggil namaku.
“Punya korek telinga gak di rumah? Kalau gak punya, nih bapak masih punya resistor yang baru dibeli, dijamin belum karatan” ejeknya.
“Untuk apa ya pak?” tanyaku polos.
“Yah untuk korek telinga kamu…”
“Hahahaha…” sontak teman sekelas tertawa.
“Makasih pak, kulit telinga saya masih sejenis dengan kulit manusia belum berganti ke kulit tembaga” jawabku dalam hati dan mengekspresikannya dengan senyuman bodoh.
***
“Saya rencananya mau buat robot yang bisa mendeteksi bahan semikonduktor, kira-kira bisa tidak yah? kalau Kiya mau buat apa?” pikir Muli yang kemudian bertanya padaku mengenai tugas kuliah yang paling tidak kusuka.
“Hmm…seandainya saya bisa, saya ingin buat otak pak Teguh normal kembali dan sadar kalau kita ini mahasiswa pendidikan, bukan mahasiswa elektro…bisa tidak yah?” ucapku sambil memelas.
“Hahaha, Kiya…Kiya…maksud Pak Teguh itu baik kok, dia mungkin ingin buktikan ke fakultas lain kalau mahasiswa pendidikan fisika itu tidak hanya bisa merangkai dan memodifikasi rumus-rumus, tapi merangkai komponen-komponen elektronik menjadi alat yang bermanfaat juga bisa. Pokoknya dengan usaha yang keras kita pasti bisa, mahasiswa pendidikan fisika itu kan…(dst)” celoteh Muli yang berusaha meluruskan pikiranku.
Semua yang Muli katakan tadi belum seutuhnya tercerna di pikiranku, aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, maklumlah mencerna kata-kata seorang aktivis mahasiswa itu sulit bagiku. Muli yang sudah punya banyak pengalaman membuat PKM di bawah bimbingan pak Teguh mungkin sudah terbiasa dengan cara berpikir dosen elektro itu, sampai-sampai tugas kuliah yang diberikan dianggapnya mudah.
Aku yang sedari tadi berjalan menelusuri padang rumput di kampus mencoba menatap langit sore dan berusaha menenggelamkan beberapa resistor dan kawan-kawannya bersama matahari. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson scoopy yang datang menghampiriku dari belakang.
pipppppppp…”
“Woy anak MaLang (Mahasiswa petuaLang), sudah capek jalan kakinya?” ejek kak Adi, kakak satu-satunya yang kumiliki.
“Iya sudah…kak Adi sudah dapat tanda tangan dari dosen pembimbing belum?”
“Alhamdulillah sudah, tinggal menunggu saja, eh…itu yang kamu pegang dompetnya siapa?” tanya kak Adi.
Sangking asyiknya menikmati jalan-jalan sore di kampus, ternyata aku lupa sudah menemukan sebuah dompet yang isinya mungkin masih sangat dibutuhkan si empunya.
“Oh iya, tadi dompet ini tercecer di sekitar padang rumput itu kak, nanti seninlah ku kembalikan”.
“Oke cepat naik, sudah hampir magrib…”
“Sore ini, apa lagi yang kamu titip sama si sunset…?” canda khas kak Adi saat perjalanan pulang.
“Tidak bisa diungkapkan kak, cukup aku dan si sunset yang tahu…” jawabku.
“Semoga saja besok si sunrise tidak membawa kembali titipanmu itu, hehe…” ejek kak Adi.
***
Malam minggu tiba, tidak ada yang bisa kukerjakan selain mendengarkan radio. Yap kebiasaan dari SMP terus terbawa hingga berada di jenjang perguruan tinggi. Apalagi radio imut berwarna oranye ini yang selalu menemaniku di kamar. Secret FM, my favourite channel bersama announcer yang super duper keren menurutku, ‘VJ Nara’ namanya. Hmm...entah kapan bisa bertemu langsung dengannya.
Hy Guys, bagaimana kabar kalian di malam minggu yang lagi gerimis ini? Semoga gak keguyur hujan yah. Hari ini saya sedang memikirkan sesuatu yang hilang, agak galau sih, doakan saya yah. Tapi walaupun saya lagi galau, Secreters jangan risau, saya akan selalu mendengar curhatan-curhatan dan mengiringi puisi kalian dengan gitar Nara…!!” celoteh sang announcer dengan gaya bicaranya yang ringan.
Sending message…*
Hujan…mengapa kau hadir? Membawa tirai awanmu yang gelap
Tidak kah kau tahu? titipanku menumpuk
Kehadiran sunset tak dapat kulihat…
Tolong jangan tutup kehadiran sunrise esok, aku takut jika semangatku tak terbit…“Jenk Ara”
Hampir setiap malam minggu kukirimkan puisiku ke program Secret FM ini. Senang sekali rasanya saat VJ Nara menyairkan puisiku bersama alunan gitarnya, seakan titipan yang ingin kuberikan kepada sunset lenyaplah sudah.
“Hmm…soal titipan, sepertinya ada yang terlupa…dompet, yah dompet coklat itu…” pikirku sambil mengobrak-abrik laci meja.
Kubongkar seluruh isinya dan menemukan setitik terang kejelasan tentang si empunya dompet.
“Danar Alamsyah…fakultas teknik elektro 2009…sepertinya saya kenal orang ini” sambil melihat foto di kartu mahasiswa itu dengan seksama.
***
Matahari begitu terik siang ini, seakan ingin memanggang seluruh otak mahasiswa pendidikan fisika yang memang selalu berada di puncak titik didihnya. Seperti hari biasanya, ada yang duduk di bawah pohon mencuri sesuap oksigen hasil fotosintesis, ada yang berdendang ria bersama alunan gitar, memangku laptop, makan di kantin, menunggu dosen, dan lain-lain. Tidak ketinggalan teman saya yang satu ini, Sri, nama kerennya Chy-kun, kebiasaannya setiap hari simpel saja ‘mencari kunci motor’ karena lupa simpannya dimana, hehehe.
“Chy-kun, bagaimana…sudah dapat kunci motornya belum?” teriakku yang sedari tadi menunggunya di parkiran motor.
“Belum Kiya, saya lupa tadi naruhnya dimana…” jawab Sri bingung.
Tiba-tiba seorang cowok dengan headset aneh di telinganya datang menghampiriku.
 “Permisi, kamu tahu ini kunci motor siapa, daritadi tergantung di sadel motor ini” sambil menunjukkan sesuatu yang sedaritadi dicari-cari.
“Oh iya, ini punya teman saya…makasih yah” jawabku lembut sembari mengingat sesuatu.
Ketika cowok itu beranjak dari pijakannya, baru teringat olehku kalau dia adalah si empunya dompet.
“Hey tunggu…” teriakku berusaha menahan langkahnya.
“Iya ada apa?”
“Hmm…kamu anak teknik elektro kan? Danar Alamsyah angkatan 2009?”
“Hmm iya, ada apa ya?”
“Wah kebetulan sekali, jumat kemarin saya dapat dompet di bawah pohon rumput sana, sepertinya ini dompet kamu…” jawabku sambil memberikan dompet coklat itu kepadanya.
“Alhamdulillah, iya ini betul dompet saya…terimakasih banyak ya, kayaknya sudah dua kali deh kamu menolong saya”
“Dua kali? Oh iya…”
Aku yang bingung dengan kata dua kali itu tiba-tiba mengingat sesuatu, waktu itu Danar sempat menjatuhkan headset-nya saat dia terburu-buru menuju ke rektorat. Bayangkan saja, saya harus ikut naik turun tangga rektorat hanya untuk memberikan headset anehnya itu.
“Sekali lagi terimakasih ya, kalau kamu ingin service alat elektronik atau butuh bantuan lainnya ini kartu nama saya”
Sri yang daritadi menyimak pembicaraan kami tiba-tiba membisikkan sesuatu di telingaku. Sepertinya apa yang dibisikkannya adalah ide yang sangat brilliant menurutku.
“Hmm…kalau bantu merakit alat bisa?” tanyaku malu-malu.
“Oke, sediakan saja ide alatnya bagaimana, tinggal cari waktu kapan kita bisa mulai…” jawabnya sambil tersenyum.
***
Seperti ritual sebelumnya, setelah shalat subuh kupandangi fajar pagi dari balik jendela kamar sambil menghirup kesejukan udaranya. Ketika sunrise tampak, aku berusaha meresapi energi positifnya dan menerbitkan semangat ku lagi. Yap, spesial untuk hari ini aku ingin sunrise dapat membangkitkan semangat kak Adi yang nanti akan yudisium, berharap dia bisa meraih gelar sarjana teknik arsiteknya.
“Cie cie…yang hari ini mirip kotoran cicak, pucatnya minta ampun…” ejekku kepada kak Adi.
“Ejek saja terus, nanti kalau kamu sudah jadi angkatan tertua, rasakan sendiri dag dig dug nya bagaimana” celoteh kak Adi.
“Makanya, Kiya harus belajar dengan benar, supaya saat yudisium kelak tidak gugup seperti kakak mu ini” canda Ayah yang secara tidak langsung menasehatiku.
“Adi jangan terlalu gugup, santai saja, jaga jantungmu…” sambung Ibu yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.
“Tuh dengar kata Ibu, jangan sampai pas dengar pertanyaan dari dosen malah jantungan…hehehe peace mybro, tenang saja saya sudah bilang kok sama si sunrise untuk menyemangati kak Adi hari ini” candaku.
Kak Adi hanya tertawa kecil mendengar candaanku.
***
Mengajar di depan teman-teman dan dosen hari ini sukses besar, Fisika Sekolah II berhasil kutaklukkan dengan materi ‘usaha dan energi’ sebagai senjatanya. Thanks for sunrise untuk semangatnya hari ini. Tiba-tiba aku terpikir dengan kak Adi, semoga dia sama suksesnya denganku. Aku mencoba mengaktifkan handphone oranye yang daritadi kunon-aktifkan, beberapa menit kemudian satu pesan masuk kuterima dan itu dari kak Adi.
 Mysist, bilang sama si sunrise, ini terakhir kalinya dia memberikan semangat kepada saya, karena saya tak butuh lagi semangat darinya. Gelar sarjana teknik arsitektur telah saya dapatkan…hahaha”
Membaca pesan itu membuatku senang tak terkira, berasa ingin cepat-cepat pulang ke rumah merayakan kesuksesan kakak bersama Ayah dan Ibu. Tapi sebelumnya aku harus berkonsultasi dengan Danar mengenai alat elektro yang ingin kubuat. Kalau sudah buru-buru begini, Sri jadi sasaran empuk untuk jadi teman nebenk.
“Chy-kun, nebenk dong ke fakultas teknik elektro…” bujukku.
“Sabar yah Kiya, saya lagi mencari sesuatu nih…” jawab Sri sambil tersenyum campur gelisah.
“Kunci motor lagi?” tanyaku keheranan.
Namun secara tidak langsung Sri memberikanku inspirasi tentang alat yang akan aku konsultasikan bersama Danar.
***
Hari berganti hari, tak terasa gantungan kunci pendeteksi barang hilang berbasiskan bluetooth ala Danar dan aku sudah mencapai 90%. Tak lupa kubuatkan satu khusus untuk Sri. Aku sudah mulai tertarik dengan dunia elektro, lama-kelamaan apa yang dikatakan Muli pada waktu itu menurutku benar adanya.
Danar adalah mahasiswa elektro yang berbakat, bukan hanya teori, praktek elektro pun mantap dia terapkan. Sampai suatu saat aku penasaran dengan headset aneh yang sering dia gunakan, entah itu headset canggih tanpa kabel, atau sejenis handphone, maklumlah aku kurang up to date dengan barang-barang canggih seperti itu.
Hingga suatu hari aku tahu kebenarannya. Saat itu Danar mengantarku pulang ke rumah. Ibu yang sedang menyiram taman tiba-tiba kaget melihat Danar.
“Eh Danar…ya ampun sudah lama Ibu tidak ketemu kamu, bagaimana kabarnya nak?” sapa Ibu sambil memberikan telapak tangannya untuk disalami dengan Danar.
“Alhamdulillah baik bu…” jawab Danar tersenyum.
“Ibu kenal Danar dimana?” tanyaku penasaran.
“Danar ini pernah jadi murid Ibu di SMP…”
“Memangnya Ibu pernah mengajar di SMP mana selain di SLB (Sekolah Luar Biasa)?” tanyaku lagi yang semakin penasaran.
“Maksud Ibu SMP di Sekolah Luar Biasa…ini murid kebanggaan Ibu loh…” kata Ibu penuh bangga.
“Owh…”
Hanya kata itu yang bisa kukeluarkan, namun di dalam hati kata “luar biasa” yang tak henti-hentinya kuucapkan. Danar hanya tertawa kecil mendengar pembicaraanku dengan Ibu.
***
“Kiyara, saya mau alat ini kamu ajukan untuk PKM tahun ini…” kata pak Teguh yang sangat menyukai hasil karyaku dengan Danar.
Oh no, ujung-ujungnya pasti ketiga huruf itu yang keluar dari mulut bapak ini P, K, dan M” kataku dalam hati dengan keringat yang bercucuran.
“Tapi pak, saya sama sekali belum punya pengalaman membuat PKM” kataku yang mencoba menghindar dari keikutsertaan ini.
“Tenang saja, Muli bisa bantu kok…kalian tinggal mencari satu rekan kerja lagi, entah dari sesama mahasiswa pendidikan fisika atau dari fakultas lain” jawab pak Teguh dengan santainya.
Mau bagaimana lagi, perintah pak Teguh tak bisa ku tolak, hitung-hitung tambah pengalaman ikut kegiatan mahasiswa seperti ini. Akhirnya, aku, Muli, dan Danar pastinya, menjadi satu kelompok untuk membuat proposal PKM ini.
Selang beberapa minggu kemudian, kerja keras kami membuahkan hasil yang manis. Proposal kami diterima untuk maju ke Pimnas yang kali ini diadakan di Bandung. Aku sangat senang bisa menjadi salah satu mahasiswa yang beruntung merasakan kemenangan ini. Namun di sisi lain aku merasa sedih karena tak dapat menghadiri acara wisuda kak Adi yang bertepatan dengan kompetisi ini. Kak Adi berusaha meyakinkanku, kalau aku harus meneruskan perjuanganku bersama Muli dan Danar.
***
Tak terasa tiga bulan terlewatkan begitu cepatnya. Kepergian kak Adi untuk selamanya belum bisa kupercaya. Hanya foto wisudanya yang bisa kupandangi, tak ada lagi pendengar setiaku, tak ada lagi yang bisa mendengar lagu-lagu jelekku. Aku juga ingin memperlihatkan trofi kemenangan ini dan memberikannya satu buah gantungan kunci hasil karyaku bersama teman-teman, sebagai hadiah kecil pertama yang belum pernah kuberikan sebelumnya.
“Selamat ulang tahun mybro…”
Aku berharap sunset dapat menyampaikan ucapanku kepada dia yang berada jauh di sana. Air mata di pipiku tak terasa menetes, semilir angin di padang rumput kampus ini menambah kegundahan hatiku.
Tiba-tiba terdengar suara gitar dari balik pohon yang sedaritadi menjadi tempatku bersandar. Rupanya Danar datang untuk menghiburku dengan gitarnya. Aku baru tahu kalau dia mahir bermain gitar, merdu sekali. Entah mengapa tiba-tiba kulontarkan pertanyaan kepadanya yang selama ini ingin sekali kutanyakan.
“Danar, saya ingin tahu, apa kamu pernah malu dengan kondisi fisik yang tidak sempurna seperti ini?” tanyaku dengan suara lembut, takut jika dia merasa tersinggung.
“Awalnya, terlahir sebagai penyandang tuna rungu itu sungguh membuat saya merasa tak berguna. Hanya bisa melihat dan merasa tanpa tahu apa yang mereka katakan dan rasakan sebenarnya, tanpa tahu bagaimana mendengar suara sendiri, dan tanpa tahu bagaimana suara alam yang Tuhan karuniakan. Tapi lama-kelamaan saya merasa tak perlu malu dengan keadaan seperti ini, saya berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Bekerja sampingan menjadi penyiar radio sudah cukup bagi saya untuk mendengar curhatan beribu-ribu orang di kota ini. Dan salah satu keinginan saya…saya ingin menjadi pendengar setia untuk Jenk Ara, yang sudah berbulan-bulan tidak mengirimkan puisinya lagi ke program malam minggu Secret FM. Seandainya dia tahu, kalau VJ Nara sangat ingin menyairkan puisi-puisinya lagi dengan gitar ini” jawab Danar dengan panjang lebarnya.
Mendengar pengakuan Danar, aku merasa terkejut.
“VJ Nara itu kamu?” tanyaku untuk meyakinkan kembali.
“Yap, hehehe…”
Aku pun berdiri dari sandaran, dan mencoba berteriak sekeras-kerasnya.
Sunset…katakan titipan ku ini pada sunrise dan kakak, Kiya sekarang sudah menemukan pendengar setia yang baru…”
PENDENGAR SETIA
Ketika dirimu duduk termenung, di antara guguran dedaunan
Aku datang…dengan petikan gitarku
Sengaja hanya untuk menghiburmu…
Kulihat dirimu seperti menanggung, beban hidup yang ingin kau lepaskan
Aku datang…dengan petikan gitarku
Mencoba memasuki ruang dalam benakmu…
Dengan sejuta tanya, dan misteri dari dirimu
Tak kusangka kau menitikkan air mata
Hingga getaran senar kuhentikan, agar dapat menjadi pendengarmu…
Dari sejuta puisi yang kau ciptakan
Hanya puisi hidupmu yang tidak kutahu
Dari rangkaian nada gitarku bergetar
Aku dapat mendengar puisi cerita hidupmu…
Izinkanlah aku menjadi pendengar setiamu…

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.